Membangun Jiwa dan Raga

  • Suara Merdeka : 10-10-2013
  • Oleh Saifuddin Ali Anwar

saefuddin ali anwar2Gangguan jiwa bisa menyerang manusia, tanpa memandang umur, pendidikan, kebudayaan, ataupun status sosial ekonomi.
Menurut WHO, lebih dari 450 juta orang dewasa secara global diperkirakan mengalami gangguan kesehatan jiwa. Dari jumlah itu, hanya kurang dari separuh yang bisa mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan. Gangguan jiwa, termasuk depresi, menjadi salah satu problem kesehatan, dan banyak ditemukan di tengah masyarakat, termasuk di Jawa Tengah. Di Kabupaten Purworejo pada 2013 ditemukan 61 kasus gangguan jiwa. Angka kasus itu menempati urutan kedua untuk tingkat regional (KR, 29/6/13).

Tahun 2010, WHO menyatakan bahwa di negara kita terjadi hampir 150 kematian akibat bunuh diri tiap hari yang disebabkan oleh masalah kejiwaan (wikipedia). Adapun depresi adalah gangguan jiwa peringkat empat teratas yang mempengaruhi kehidupan manusia. Karena itu, Pasal 28 UUD 1945 mengamanatkan kesehatan sebagai hak asasi manusia, serta investasi hidup dan kehidupan. Sementara UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyebutkan bahwa dalam keadaan sehat badan, jiwa, dan sosial memungkinkan seseorang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Karena itu, kesehatan menjadi salah satu hak dan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Pemerintah pun concern memfasilitasi pemenuhan kebutuhan tersebut. Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kemenkes membuka hotline 500-454 sebagai pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan konseling khusus berbagai masalah kejiwaan (wikipedia).

Peluncuran program tersebut dilatarbelakangi tren peningkatan angka gangguan jiwa. Kompleksitas persoalan kejiwaan ibarat fenomena gunung es. Karena itu, kita yang sehat wajib mensukuri dengan memelihara dan menjaga anugerah dari Tuhan YME. Bermodal sehat, kita dapat berkarya dan menikmati kehidupan yang bermartabat.

Hidup tidak hanya perlu sehat fisik semata tapi juga mutlak membutuhkan rohani yang sehat. Hakikatnya, raga adalah tempat jiwa sehingga bila raga sakit secara otomatis jiwa pun ikut sakit. Mendasarkan hal itu, lahirlah slogan ”Mens Sana Incorpore Sano”, atau orang Barat menerjemahkan dalam moto ”A Healthy Mind in Healthy Body”.

Usia Lanjut

Tanggal 10 0ktober 2013 kita memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Peringatan tahun ini mengangkat tema ìMental Health in Older Adults” atau secara awam bisa kita artikan ìMenyongsong Usia Senja dengan Jiwa Sehat” . Tema tersebut merupakan rangsangan untuk menggugah kesadaran mengenai gangguan jiwa dan depresi pada usia lanjut yang dialami banyak penduduk.

Di Indonesia, peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia dimulai tahun 1993 oleh Presiden Soeharto. Peringatan hari itu bertujuan menghormati hak-hak orang terkait dengan masalah kejiwaan, dan memperluas program pencegahan gangguan kesehatan jiwa. Selain itu, memberikan pelayanan yang memadai dan lebih mendekatkan akses bagi mereka yang membutuhkan.

Terkait denan arti penting kesehatan, termasuk kesehatan jiwa, mari kita berseru, ”Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”. Ingat dan jalankan sabda Nabi Muhammad saw, yakni ”Gunakan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu.” Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, diharapkan menginspirasi warga di kota dan desa di Jawa Tengah untuk terus meningkatkan derajat kesehatan, termasuk kesehatan jiwa. Harapannya, seluruh lapisan masyarakat terus berupaya meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk mencegah dan memelihara kesehatan jiwa dan raga.

Di sisi lain, perlu upaya secara terus-menerus mempromosikan kesehatan jiwa kepada keluarga dan masyarakat melalui peningkatan pemahaman kesehatan jiwa, sesuai denan kondisi sosial budaya dan kondisi setempat. Peranan keluarga terasa makin penting, dengan kemeningkatan problem kesehatan akibat pengaruh ketimpangan sosial ekonomi dan lingkungan hidup. Termasuk pengaruh perilaku dan gaya hidup modern saat ini. (Sumber: Suara Merdeka, 10 Oktober 2013)

Tentang penulis:
Dr Saifuddin Ali Anwar, dosen Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus)